Pernah Dekat

Muhammad Firsca Almanda

Jarum waktu telah kau tusukkan,
Menembus palung hati secara perlahan,
Kau ukir luka yang sempurna,
Hingga hati ini semakin fana,
Kau menolak kebahagiaan yang ku janjikan,
Dengan menjadikan ia sebagai pilihan.

Namaku Sastra Febrian Putra. Aku sering dipanggil Sastra. Umurku 20 Tahun. Selaras dengan namaku, Aku suka sastra. Aku lebih memilih mengabadikan momen yang berkesan bukan dengan foto, melainkan selalu aku tuangkan dalam bentuk tulisan.


Kukuruyuk…….kuk Kukuruyuk…….kuk
Terdengar suara ayam yang sontak membuatku terbangun dari lelap. Aku pun bersiap untuk mandi dan berangkat kuliah.


Hari ini adalah hari pertamaku menjadi mahasiswa baru, aku sangat senang dan gugup jua, karena aku belum biasa beradaptasi dengan lingkungan dan kawan baru.


“Ya Allah, Engkau memang Maha Sempurna. Terbukti dari salah satu ciptaanmu, yaitu dia (wanita).” ucapku dalam hati ketika melihat bidadari tak bersayap nampak jelas di depan mata.


Sontak lubuk hatiku pun merayu supaya aku memberanikan diri menghampiri wanita yang sedang duduk berdua dan berbincang dengan temannya.


“Hai! Boleh duduk disini?” ucapku menyapa dan bertanya pada kedua wanita itu.


“Oh iya boleh.” teman wanita yang membuatku kasmaran pada pandangan pertama menjawab pertanyaanku.


Mendengar jawaban itu, aku pun langsung duduk sambil sedikit berucap dalam hati.


“Aduh, kenapa bukan dia yang jawab?” gerutuku sesal dalam hati.


Lima menit telah berlalu, aku masih menunggu momen untuk mengawali pembicaraan. Dan akhirnya ada suatu perbincangan yang membuatku tertarik. Karena mereka membicarakan tentang mata kuliah yang sama dengan mata kuliahku.


“Eh tadi aku denger kalian sebut mata kuliah grammar, kalian Mahasiswa Bahasa Inggris juga?” tanyaku pada mereka.


“Iya, emang kamu juga mahasiswa bahasa inggris? Tingkat berapa?” wanita incaranku pun akhirnya berucap.


“Oh sama ya. aku tingkat satu, kelas A. Boleh kenalan? masa satu jurusan gak saling kenal hehe.” ucapku antusias sambil ketawa ringan.


“Oh gitu, aku kelas A juga. Boleh. Aku Tiara.” jawab dia sambil memperkenalkan diri.


“Dia temanku.” Sambil nunjuk teman yang ada di sampingnya.


“Siapa nama kamu? Aku lupa hehe…. ada yang mau kenalan tuh.” ucap Tiara sambil ketawa ringan dan menggoda temannya.


“Apaan sih kamu Ra. Aku Ratna, kelas A juga sama.” ucap Ratna sambil mencubit perut Tiara karena malu.


“Oh iya, kamu Tiara dan kamu Ratna.” sambil menunjuk mereka berdua.


Karena asyik memikirkan pertanyaan selanjutnya, terdengar suara memanggilku berulang kali.


“Mas! Halo! Mas! Kok melamun? Mas belum kenalan!?” Tiara melambaikan tangannya tepat di depan wajahku dan menyadarkanku dari lamunan tentangnya.


“Eh, euh, oh iya maaf. Aku terlalu kagum sama bidadari yang tepat di depanku saat ini. Jadi lupa kenalan hehe. Aku Sastra.” ku alihkan bahasan tentang lamunan dengan sedikit modus. Dan akhirnya aku memperkenalkan diri sambil menjabat tangan mereka.


“Emh mas nya modus aja, pake jabat tangan segala.” ledek Tiara sambil tertawa.


“Ya, namanya juga usaha hehe” ucapku membalasnya.


“Eh iya, aku harus pergi. Tapi sebelum itu, aku boleh minta nomor kalian?” tanyaku pada mereka.


“Oh iya mas boleh.” ucap mereka mengiyakan.
Setelah aku tulis nomor mereka, aku pun langsung pamit untuk pergi.


“jangan panggil mas dong! panggil Sastra aja! kita kan seumuran. Aku pamit ya” ucapku sambil melambaikan tangan dan menjauh dari mereka.


“Iya Sastra. Sampai ketemu.lagi” Mereka membalas ucapan pamitku.


Sejak perkenalan itu, Aku dan Tiara saling berbalas pesan. Bahkan kita sering curhat satu sama lain, baik itu tentang kuliah maupun cinta. Seringkali aku menolongnya disaat tertentu.


Hari demi hari telah berlalu, kita semakin dekat dan lebih dekat.

Hingga saat itu tiba, aku tak tahu kenapa kedekatan kita semakin membuatku nyaman bersamanya dengannya.

Aku jatuh hati padanya, entah dia punya rasa yang sama atau tidak, aku tak tahu.

Tapi yang jelas, aku telah jatuh hati padanya. Dan mencoba mencurahkan perasaan ini langsung di hadapannya.

Setelah semua telah ku ungkapkan, ada hal yang paling ku ingat sampai hari ini, yaitu penolakan.

Alasannya mungkin bisa aku terima saat itu, karena ia ingin fokus dulu kuliah.


Namun semenjak hari itu, masa kelam menghampiri kita berdua, khususnya diriku. Tiara berubah, dia menjadi seorang yang tak pernah ku kenal sebelumnya.

Dia perlahan menjauh dariku. Disaat aku sudah mulai nyaman dan serahakan segenap kasih tulusku padanya.


“Tiara. Aku rindu. Apa kamu sedang berusaha menjauh dariku? Kenapa Tiara? Ada apa? Tolong cerita!” Ucapku dalam pesan yang ku kirimkan pada Tiara.


Berulang kali aku mencoba untuk mengirim pesan padanya, dan hasilnya tetap sama. Nihil, pesanku terkirim namun tak pernah ia baca.


Gerutu hatiku saat itu. Aku mulai kalap dengan semua perbedaan Tiara yang amat mencolok. Lamunanku terus menggiringku kepada pertanyaan-pertanyaan ada apa dan kenapa, selalu tentang Tiara.


Esok harinya, aku mencoba menghampiri Tiara.


“Tiara! Tunggu!” Teriakku memanggil Tiara yang berjalan menuju pintu keluar.


Tiara menoleh ke arahku dan berhenti sejenak.


“Kamu sibuk ya akhir-akhir ini? Udah jarang bales pesan dari aku.” ucapku bertanya pada Tiara serius.


Tiara hanya tersenyum padaku dan Boom! Hatiku seakan retak seketika, ada lelaki yang keluar dari kelas sebelah, tersenyum padaku dan langsung merangkul Tiara.


Aku tak dapat berucap apa-apa kala itu. Aku terkejut dengan teramat sangat ketika melihat Tiara dirangkul oleh Rendi yang notabene adalah teman sekaligus seniorku di kampus.


Hari itu adalah hari terkelam keduaku yang berkaitan dengan Tiara. Tak mau berlama-lama dikampus karena sudah sangat syok atas kejadian yang baru saja terjadi, aku pun langsung berinisiatif untuk pulang ke rumah.


Satu bulan kemudian, acara besar jurusanku pun memasuki H-1.

Aku tak berbuat banyak pada saat dekorasi bazar. Kala itu aku datang terlambat dan langsung menelepon salah satu temanku.


“Halo Do! Dimana? Ini gua udah di depan Mandala (sebuah bangunan).” Ucapku dalam telepon.


“Oh iya, langsung masuk aja Sas!” Ucap Dodo.


Mendengar perintah Dodo, aku pun langsung masuk mandala dan menyapa teman-temanku yang lainnya.


“Kemana aja lu Sas? Ditungguin dari tadi.” ucap Dodo di sela-sela kerumunan orang.


“Sorry. Gua tadi abis ada acara. Tapi gua lihat dekorasinya juga udah bagus nih.” Ucapku pada Dodo.


Aku terpana melihat senyumnya padaku di sela perbincanganku dengan Dodo. Tiara tersenyum padaku dan aku pun membalas senyumnya.

Namun tak ada kata diantara kita berdua.
Aku terus memandangi parasnya, senyumnya.

Walau dia tak pernah merasakannya. Begitu terus berulang-ulang.


Jam telah berada pada pukul 10 malam. Dan di sela aku menatapnya, keluar kata dengan nada pelan dari mulutnya.


“Duh udah malem. Pengen pulang.” Ucap Tiara gelisah.


Tak lama kemudian, Tiara menghampiri Rendi. Aku terus mengamati tingkah mereka berdua. Sungguh berat memang, aku semakin terbakar oleh api cemburu dan tak bisa berbuat apa-apa.


Setelah lama mereka ngobrol, dan aku masih mengamati dengan ujung mata.

Mereka berdua pun akhirnya keluar dari Mandala dan hati ini merasakan sakit kembali ketika Rendi menemani Tiara keluar dengan merangkulnya.


Aku tak tahan dengan semua itu. Kejadian itu membuatku terus bertanya dalam hati.


“Mereka pacaran?” Kalo iya, kok bisa?” padahal kan Tiara udah bilang mau fokus dulu sama kuliah.

Tiara Bohong! Tiara Dusta!” Gerutu aku dalam hati sambil terus menerus bertanya dengan pertanyaan yang sama.


Tak lama dari keluarnya Rendi dan Tiara, aku mencoba mencari tahu yang sebenarnya.


“Man punya waktu bentar gak? Satu menit aja. Gua cuma butuh kepastian.” Ucapku memohon pada Iman yang berada di tengah pintu keluar.


“Bentar Sas, gua selesaiin dulu ini satu lagi. Tunggu!” Ucap Iman menyuruh menunggu.


Setelah Iman selesai dengan dekorasinya di tengah pintu mandala, dia langsung ngajak aku keluar dari mandala.


“Gimana Sas? Lu mau kepastian apa?” Ucap Iman bertanya.


“Lu kan deket sama si Rendi. Dia sama Tiara pacaran?” Ucapku bertanya dengan nada ingin tahu.


“Iya Sas. Udah lama mereka pacaran. Emang kenapa?” ucap Iman menjelaskan dan langsung bertanya balik.


“Oh gitu, enggak. Cuma nanya aja. Makasih ya.” Ucapku sambil berjalan menjauh dari Iman dan masih tak habis pikir dengan segala kejadian yang telah ku alami.


Sejak mendengar ucapan Iman, hatiku sontak berhimpun segala pertanyaan yang luar biasa hebat.


Tiara menolakku dengan cara yang lembut, namun dia tak tahu kalau kelembutan itulah yang membuat luka hatiku semakin sempurna.

Tasikmalaya, 17 November 2018

Ta’aruf

Selamat fajar menuju senja, dan begitu pun sebaliknya.

Namaku Muhammad Firsca Almanda, dan aku penggemar sastra.

Aku menjadi janin pertama yang diasingkan ke bumi oleh kedua orang tuaku. Diantara pengasing itu, ada yang selalu ku panggil ibu. Ia merupakan pesulap yang handal. Ia mampu menyulap selaput perutnya menjadi angkin, hanya untuk memastikanku terjaga.

Teramat sering aku bertanya, mengapa dahulu mereka mengasingkanku?

Meski begitu, kali ini pepatah memang ada benarnya. Buah jatuh takkan jauh dari pohonnya.

Dan aku menjadi pewaris, penerus langkah mereka. Walau dengan teguh aku menolak, kelak, aku pun akan menjadi pengasing, persis seperti mereka.